Zola Zolu Gallery
Media
Zola Zolu Gallery
Galeri dengan Sebuah Misi
Harper's Bazaar Indonesia, Bazaar Art, November 2010
Sepertinya Zola Zolu adalah satu-satunya galeri yang membawa misi ‘PENYEMBUHAN’ bagi para PENIKMAT SENI. Sebuah misi yang kemudian dijalankan oleh karya-karya yang diwakili olehnya.

Hadir di tengah kompetisi bisnis karya seni dengan moto Colour Art & Painting For Healing, karya-karya yang ditampilkan oleh Zola Zolu Gallery kebanyakan memiliki warna-warna yang kuat, komposisi yang indah, serta mengandung kisah yang dapat diasosiasikan dengan kehidupan setiap individu yang menyaksikannya. Karya-karya yang saat hadir di tengah sebuah keluarga, akan dinikmati dengan perasaan yang ‘nyaman’ atau feel good. Inilah healing yang dimaksudkan oleh Hingkie dan Lien Prasantyo, pasangan suami istri pemilik Zola Zolu Gallery.

Walaupun demikian, Hingkie sendiri tidak pernah mengarahkan atau ‘menyetir’ seniman-seniman yang diwakilinya agar membuat karya yang sesuai dengan keinginan galeri. “Mereka bebas melukis sesuai dengan karakter dan jati diri mereka. Itu tugas mereka. Tugas saya adalah mempromosikan dengan baik karya tersebut,” ujarnya. Beberapa seniman yang diwakili oleh galeri yang berdiri tahun 1998 ini antara lain Muhammad Arif Kurniawan, Arifien Neif, Iroel, Noer Dhami, Richard Winkler, dan Ahmad Su’udhi. Namun hanya dua orang yang berkolaborasi secara eksklusif dengan Zola Zolu Gallery, yaitu Arifien Neif dan Richard Winkler.

Sebagai galeri yang tergolong ‘muda’ saat itu, tidak mudah untuk mendapatkan seniman yang benar-benar memiliki reputasi yang baik yang bersedia untuk diwakili secara eksklusif. Namun pasangan ini memiliki keyakinan yang teguh setiap kali bertemu dengan seniman yang akan diwakilinya. Dengan Arifien Neif sendiri, awal pertemuan terjadi pada tahun 1999. “Saat itu Arifien sudah menjadi pelukis terkenal dan karyanya muncul di mana-mana. Sebenarnya yang awalnya sangat menyukai lukisan beliau adalah istri saya. Setelah pertemuan pertama dengannya, sepanjang tahun 2000 saya mendatangi rumahnya (waktu itu masih di Menteng) setiap hari, dari hari Selasa sampai Jumat, untuk melihat dia melukis. Dia memiliki cara kerja yang unik, yaitu melukis dari jam 8 pagi sampai 5 sore. Saya rasa tidak ada pelukis lain yang memiliki disiplin seperti itu,” cerita Hingkie.

Dari pertemuan yang intensif tersebut timbul kekaguman Hingkie terhadap Arifien. “Karakternya unik. Selama saya berada di rumahnya, tidak pernah sekali pun saya melihat dia marah. Satu hal yang saya perhatikan, dia juga sangat menghargai hasil tanaman dari kebunnya sendiri. Bunga-bunga yang dipajang di beberapa bagian rumahnya dipetik dari taman di rumahnya. Baginya, ini adalah salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kita harus mencintai hasil alam Negeri ini,” cerita Hingkie dengan bersemangat. “Dari situ saya melihat bahwa kehidupannya yang tenang serta rumah tangganya yang harmonis sangat mendukung hasil karyanya,” tambahnya lagi.

Dari situlah, Hingkie dan Lien akhirnya menetapkan bahwa salah satu persyaratan dari seniman yang karyanya akan diwakili oleh Zola Zolu Gallery haruslah memiliki keluarga yang harmonis (jika seniman tersebut sudah menikah) atau hubungan yang baik antar anggota keluarga. Sebuah syarat yang unik dan membuat kita bertanya akan korelasinya dengan hasil karya seni. Namun jika mendengar penjelasan Hingkie, alasan ini sangatlah bisa diterima. “Karena jika hati sang seniman tenteram, hasil karyanya akan menjadi lebih baik. Sebaliknya bila hubungan keluarganya tidak harmonis, sang seniman tidak bisa.berkarya dengan baik. Jika hasil karyanya menjadi tidak baik oleh karena hubungan yang tidak harmonis tersebut, bagaimana mungkin lukisan tersebut dapat menjadi ‘penyembuh’ bagi pemiliknya?” tegas Hingkie.

Dengan menanamkan nilai-nilai kekeluargaan, galen ini kemudian menjalankan pnnsipnya secara konsisten. Dalam setiap pameran karya seni yang diadakan olehnya, sang seniman selalu hadir. Jika sudah berkeluarga dia akan muncul bersama istri dan terkadang juga bersama anak-anaknya. Hingkie dan Lien sendiri tidak pernah terpisahkan dalam setiap pameran yang mereka adakan. Contohnya adalah saat pameran lukisan karya Richard Winkler di salah satu galeri Zola Zolu, yaitu di Cihampelas Walk, Bandung, beberapa waktu yang lalu. Richard yang diwakili oleh Zola Zolu sejak tahun 2005 ini hadir bersama istri dan dua anak perempuannya yang datang dari Bali.

Zola Zolu Gallery sendiri terdapat di tiga tempat, yaitu dua di Bandung (Jalan Natuna dan Cihampelas Walk) serta satu di Jakarta (City Plaza). Ketiganya memiliki satu kesamaan, yaitu tembok berwarna hitam dan burgundy. Suatu penggunaan warna yang tidak biasa dari sebuah galeri. Untuk hal ini, Hingkie memiliki filosofi tersendiri, yang berkaitan dengan strategi bisnisnya. “Saya ingin menonjolkan warna-warna klasik dengan tembok berwarna gelap itu. Lukisan yang saya jual akan tampil beda saat berada di galeri saya dengan saat berada di rumah pemiliknya. Saat berada di rumah pemiliknya, lukisan tersebut akan tampak lebih indah, karena rumah pada umumnya tidak ada yang temboknya hitam. Begitulah strateginya,” jelas Hingkie sambil tertawa.

Ini jugalah yang membuat penikmat seni yang membeli karya seni darinya kerap datang kembali. Namun, sepertinya para peminat harus bersabar, karena Hingkie dan Lien tidak pernah menetapkan deadline bagi para senimannya atau menetapkan kapan saja mereka harus siap dengan karyanya. Anda hanya perlu menunggu, dan jika beruntung menjadi yang pertama mendapatkan penawaran dan karya-karya yang dipilih sendiri secara cermat oleh pasangan suami istri ini.


Please click the picture to view the actual article

Galeri dengan Sebuah Misi Galeri dengan Sebuah Misi